
Tepat pukul delapan, lampu ruangan belum sepenuhnya gelap, cukup untuk menemani perbincangan malam ini. Keid melihat ke luar jendela, Sudirman terlihat masih penuh dengan kendaraan berlalu lalang, bergerak pelan dengan lampu-lampu yang masih menyala terang. Keid mulai membenarkan posisi duduknya, lalu ponselnya mulai bergetar.
Nama ‘Bang Jean’ muncul di layar.
Keid menarik napas dalam sebelum mengangkat panggilan itu. “Halo, Keid.” Suara dari seberang terdengar di telinga Keid tanpa basa-basi. Ada jeda sebentar. Bukan karena canggung, tapi karena keduanya tahu—obrolan ini cukup sensitif bagi Keid.
“Halo, Bang. Apa kabar?” Tanya Keid setelah beberapa saat dirinya terdiam. Kekehan dari seberang pun terdengar sedikit nyaring ditelinganya, Jean cukup terhibur dengan basa-basi yang Keid lontarkan.
“Baik banget gue, lo sendiri apa kabar?” Tanya Jean kemudian.
“Baik juga, Bang.”
“Hmm, kayaknya gue langsung ke inti aja,” kata Jean. “Sebagai kakaknya Mecca, ada beberapa hal yang gue perlu tau. Dan gue benar-benar kepikiran soal ini, bukannya gue ragu sama lo tapi gue gak mau adik gue ngalamin hal yang sama kayak kemarin. Sebenernya, hubungan lo sama adik gue ini, mau bawa ke mana?”
Keid menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya kosong ke arah jendela, tapi jawabannya jelas. Dia terdiam Sejenak.
“Sorry, maksud gue tuh lo bakal bawa ke jenjang serius gak?” Jelas Jean agar Keid tidak salah paham.
“Pastinya, Bang. Gue niat nikah sama Mecca.” Jean terdiam. Di balik sambungan telepon, Keid bisa membayangkan ekspresi kakak Mecca itu—menimbang, bukan menghakimi.
“Dan serius versi lo itu gimana dan kapan?” tanya Jean. “Karena niat tanpa arah juga bisa jadi trouble kedepannya.”
Keid mengangguk meski tahu Jean tak bisa melihatnya. “Soal waktu, gue gak mau mutusin sendiri. Gue mau bicarain itu bareng Mecca.”
“Kenapa?”
“Karena ini bukan soal yang remeh dan Mecca perlu andil dalam hal ini bang,” jawab Keid pelan. “Gue gak mau datang dengan keputusan gue sendiri dan itu jatuhnya ikutin ego gue. Gue mau dia ada di dalam setiap prosesnya, bukan cuma nerima hasilnya.”
Jean menghela napas singkat. “Lo sadar, banyak laki-laki ngomong serius tapi gak siap denger kata ‘belum’?”
“Iya, gue tau itu, Bang. Dan gue lagi belajar buat gak jadi salah satunya.”
Keid berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Gue punya rencana. Tapi rencana itu bisa berubah kalau Mecca belum siap. Dan gue harus siap nerima itu.”
“Kenapa Mecca?” tanya Jean lagi. “Apa yang bikin lo yakin sama adik gue?”
Keid tersenyum, “Gue suka sama personality Mecca. Dari awal gue ketemu dia, gue udah bisa tahu kalau dia anak yang baik dan sopan. Terus gak lama setelah itu, gue ketemu dia sambil gendong sharoon, tanpa gue sadari, gue udah lama jatuh suka sama dia.”